Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

05/07/15

Catatan Penting Dalam Pembuatan atau Perancangan Suatu Aplikasi

Catatan Penting Dalam Pembuatan atau Perancangan Suatu Aplikasi_

Catatan Penting Dalam Pembuatan atau Perancangan Suatu Aplikasi - Yang dimaksud adalah pembuatan aplikasi yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (seperti membuat program aplikasi atau merancang sistem administrasi, dan sejenisnya).

1. Bidik Bidang Usaha
Pertama-tama, silakan Anda pilih bidang usaha yang akan menjadi bahan penelitian Anda. Pemilihan ini dilakukan sedapatnya sesuai dengan minat atau yang erat dengan kehidupan Anda sehari-hari. Misalkan Anda memilih “Apotek.”

2. Tentukan Unit Kerja
Selanjutnya, dari Apotek tersebut, tentukan Anda (seakan-akan) bekerja di bagian (unit kerja) mana. Misalkan di bagian “Penjualan Obat”-nya.

3. Tema
Dari butir 2 di atas, Anda sudah tahu bahwa tema yang Anda ambil adalah “Penjualan.” Dengan demikian, minimal, di Landasan Teori Anda harus ada teori yang berkaitan dengan “Penjualan” atau “Pemasaran.” Misalkan, jenis-jenis pasar, jenis-jenis penjualan (tunai, cicil, dsb.), dan sebagainya.

4. Koleksi Permasalahan
PI dibuat karena adanya masalah, tanpa masalah, PI tidak bisa dibuat. Teliti dan catat masalah-masalah yang berkaitan dengan tema di unit kerja yang Anda pilih. “Ada masalah-masalah apa di bagian penjualan obat ?.” Misalkan (1) barang yang akan dibeli konsumen sering habis, (2) susah menghitung uang hasil penjualan setiap harinya, (3) diperlukan waktu yang lama untuk membuat laporan harian tentang jumlah barang yang terjual, (4) kekurangan tenaga penjual yang harus mengantar pesanan obat/ delivery order, (5) dan seterusnya, sebanyak mungkin.

Permasalahan di atas “diceritakan” di Latar Belakang Masalah.

5. Batasi Masalah yang Akan Dipecahkan
Tidak semua masalah yang ada di Latar Belakang Masalah akan dipecahkan di PI ini. Jika PI Anda akan membuat perancangan sistem mengenai penjualan obat di apotek, maka Anda tidak akan membahas masalah kekurangan tenaga penjual. Dengan demikian di Batasan Masalah, Anda harus “menceritahan,” masalah yang mana saja yang akan Anda pecahkan, dan dengan tools apa saja Anda akan memecahkan masalah tersebut (tools juga dibatasi, karena tidak semua tools akan Anda gunakan). Tools dapat terdiri dari programming language yang Anda pilih, atau metoda-metoda, atau teknik-teknik perancangan sistem, dan sebagainya. Tools sesungguhnya bukanlah teori ! (namun, untuk memberi gambaran seperlunya, silakan letakkan di Landasan Teori).

6. Daya Tarik
PI harus memiliki daya tarik, baik daya tarik untuk menganalisis masalah (rumitnya masalah) maupun daya tarik untuk mendapatkan nilai jual (bila selesai dibuat, produk PI bisa dipasarkan juga.) Jangan membuat PI untuk hal-hal yang “justru karena harus menggunakan komputer, malah menjadi rumit atau merugikan.” Misalnya, jangan membuat “Perancangan Sistem di Warung Tegal” yang warungnya cuma satu buah. “Program Penjualan Rokok Secara Tunai di Toko X” yang cuma ada transaksi maksimal sepuluh kali setiap harinya.

Seperti contoh yang diambil di atas, bagaimana penjualan obat bisa dilakukan secara tunai (untuk pasien), dan secara utang mingguan (untuk klinik), dan ada potongan harga atau bonus-bonus tertentu, dan sebagainya (lihat di teori pemasaran).

7. Aplikatif
Karena PI yang Anda buat bersifat aplikatif, maka program harus dibuat seaplikatif mungkin (user friendly, easy to use, error free, good input-output design) dengan tersedianya beberapa fungsi (dapat berupa icons) yang berguna bagi pemakai, seperti fungsi help, history, dan sebagainya.

Sekian artikel Catatan Penting Dalam Pembuatan atau Perancangan Suatu Aplikasi.

09/06/15

Visi Masa Depan Institut Teknologi Bandung [ITB]

Visi Masa Depan Institut Teknologi Bandung [ITB]_

Visi Masa Depan Institut Teknologi Bandung [ITB] - Visi adalah bayangan atau prognosa untuk melihat ke depan berdasarkan pada kondisi waktu dan ruang di mana bangsa Indonesia, termasuk masyarakat akademis ITB, sekarang berada. Visi menggambarkan cita-cita yang tinggi sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki, serta keterbatasan dan kenyataan yang ada. Kontekstualitas visi akan mengarahkan rencana dan strategi, serta mewarnai misi dan norma yang dianut, untuk menghadapi tantangan masa depan secara realistis.

Perumusan Visi dan Misi ITB 2000-2010 berangkat dari gambaran realitas masa kini yang dapat diuraikan sebagai berikut.

Krisis nasional yang telah berlangsung lebih dari dua tahun telah memberikan dampak yang besar kepada perkembangan bangsa Indonesia. Set back yang terjadi, membuat kita sadar bahwa perkembangan yang dicapai di masa lalu, ternyata berdiri di atas dasar yang tidak kokoh, yang kemudian roboh dan memperlihatkan segala kekurangan dan kelemahan yang ada. Kita menyadari bahwa krisis yang dihadapi bukan sebatas krisis moneter, ekonomi, hukum dan politik tetapi lebih jauh lagi yaitu krisis moral dan akhlak. Krisis moral di samping mengandung makna punahnya kemampuan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tepat dan mana yang tidak tepat, juga punahnya norma atau standar, kaidah dan kriteria yang dipakai untuk menentukan nilai itu sendiri.

Situasi tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi Perguruan Tinggi dalam menjalankan misinya. Masyarakat akademis seolah-olah tidak dapat menghindar, meskipun sadar akan adanya code of conduct, etika profesional dan berbagai nilai-nilai yang diturunkan dari kebenaran ilmiah. Perguruan Tinggi yang semestinya menjadi pusat inovasi dan guardian of values tidak lagi mampu mengaktualisasi dirinya, karena dalam pengambilan keputusannya berlaku standar ganda, dan sepak terjangnya penuh dengan kompromi. Pertumbuhan di lingkungan Perguruan tinggi memang terjadi, meskipun begitu sumbangannya pada masyarakat belum mampu merubah mentalitas oportunis menjadi mentalitas produktif berwawasan jangka panjang. Riset dan inovasinya masih terlalu berorientasi pada kepentingan promosi pribadi, belum memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Sumbangan pengembangannya pada sumber produksi strategis agraris dan pusat-pusat sumber daya ketrampilan lokal (local genius), kalaupun ada, masih sangat kecil. Ini dapat terlihat jelas pada awal masa krisis, di mana Perguruan Tinggi seolah-olah tak berdaya untuk ikut memecahkan masalah nyata, padahal secara implisit pengabdian ilmu kepada masyarakat merupakan misi utamanya.

Reformasi total menuju masyarakat terbuka menghendaki perubahan yang menyeluruh, demikian diikrarkan oleh Senat ITB tanggal 2 Agustus 1998. Tuntutan perubahan tersebut pada intinya: tidak menyukai segala bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme, meninggalkan bentuk monolitik dan bergerak ke arah pluralistik, mengubah dari kebiasaan feodalistik ke arah egalitarianistik, mengetengahkan kepekaan sosial yang lebih besar dan menghilangkan rasa takut untuk menyatakan diri. Reformasi total harus pula mengakomodasi nilai-nilai baru yang dipacu oleh arus globalisasi yang terasa mulai menderas akhir-akhir ini. Masyarakat baru yang dituju oleh reformasi total adalah masyarakat terbuka yang berdaya memperbaiki apa yang salah melalui proses perbaikan terus menerus, dan mampu menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh globalisasi dengan segala implikasinya.

Visi dan Misi ITB 2000-2010 selanjutnya dikembangkan mengikuti pola pikir berikut ini.

I. Gambaran Masa Depan

1. Perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi akan mengantarkan masyarakat dunia di awal abad ke-21 ke dalam tatanan kehidupan yang kompleks, sarat perubahan dan diwarnai oleh keterbukaan. Dasawarsa mendatang merupakan masa transisi menuju masyarakat informasi berteknologi maju yang dicirikan oleh penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara intensif, keterkaitan global, infrastruktur yang terintegrasi, dan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif.

2. Abad ke 21 akan merupakan era partisipasi, di mana individu dan komunitas memberikan kontribusi keunikan dan keunggulannya masing-masing untuk tujuan bersama, yakni peningkatan kesejahteraan umat manusia. Menghadapi perubahan yang cepat dan interaksi yang kompleks, setiap individu dan komunitas perlu mempertahankan identitas dan jati dirinya, agar keanekaragaman tetap terjaga dan kontribusinya pada peningkatan kualitas kehidupan dapat terus ditingkatkan.

3. Dasawarsa mendatang akan ditandai oleh makin terfragmentasinya permintaan, makin kompleksnya keinginan konsumen dan makin meningkatnya tuntutan atas jaminan kualitas yang mengakibatkan dibutuhkannya sistem produksi yang lebih fleksibel, responsif dan andal. Dengan demikian ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi salah satu komoditas yang sangat penting.

Peningkatan efisiensi untuk menghasilkan barang dan jasa yang kompetitif dan bernilai tambah tinggi harus dapat dicapai melalui kompetisi yang produktif, sarat dengan kreatifitas dan inovasi. Karenanya perbedaan kemampuan serta potensi antar individu dan kelompok dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemilikan modal, potensi sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusia, serta kecenderungan manusiawi untuk lebih mengutamakan kepentingan diri dan kelompok, merupakan tantangan yang perlu diatasi.

4. Masa depan akan diwarnai oleh terbentuknya tatanan dunia baru yang lebih mencerminkan realitas geo-politik, yang mendorong diperlukannya suatu tata kerjasama internasional yang dapat mengendalikan kompetisi agar berlangsung terbuka, seimbang dan produktif, sehingga peningkatan kualitas alam dan kesejahteraan umat manusia dapat terlaksana secara berkelanjutan. Jaminan hak azasi manusia, demokratisasi kehidupan, peningkatan peran wanita, penciptaan peluang kepada kelompok masyarakat berkemampuan terbatas dan upaya pelestarian lingkungan akibat terbatasnya daya dukung ekosistem, merupakan aspek strategis yang perlu dicermati secara komprehensif.

II. Persyaratan Untuk Tumbuh di Masa Depan
1. Dinamika yang terjadi pada tataran global akan menimbulkan tekanan internal secara simultan pada setiap tingkat komunitas melalui perubahan harapan atau kesadaran untuk menjadi lebih baik, sebagai konsekuensi dari peningkatan wawasan dan kecerdasan. Setiap komunitas harus dapat menjadikan gejolak lokal tersebut sebagai kekuatan atau dorongan untuk suatu kemajuan baru, bukan kendala yang dapat merusak keutuhan ataupun menghilangkan jati diri kelompok. Interaksi yang terjadi pada setiap tingkat atau antar komunitas harus dapat berlangsung dengan berlandaskan pada etika dan moral yang mungkin berubah, tetapi tetap bersumber pada nilai-nilai dasar keagamaan.

2. Masyarakat masa depan adalah masyarakat berkesadaran, yang didukung oleh individu yang berdaya, percaya diri, mampu mengenal dan mengembangkan potensinya dalam komunitas, mempunyai kepekaan sosial dan komitmen yang tinggi kepada lembaga tempatnya bernaung. Upaya untuk memberdayakan individu dan penataan kembali institusi harus dilaksanakan sehingga interaksi sosial yang bersifat plural dan egaliter dapat diwujudkan.

3. Masyarakat masa depan akan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara intensif untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pendidikan menjadi sangat penting. Kemampuan mengembangkan kerjasama akan menjadi kunci keberhasilan. Landasan komunikasi perlu dibentuk sehingga partisipasi dari bawah dan sinergi pemikiran multi-disiplin antar komunitas dapat dibina dan pemanfaatan bersama sumberdaya secara efisien dimungkinkan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat mengharuskan masyarakat untuk terus mengaktualisasi diri dan belajar sepanjang hayat. Lingkungan belajar perlu diciptakan agar masyarakat tetap kritis dan kreatif menghasilkan pemikiran baru.

4. Masyarakat masa depan memerlukan pola pikir fleksibel dan sikap terbuka terhadap perubahan dan perbaikan, mempunyai daya antisipasi, adaptasi dan kemampuan koreksi diri yang tinggi serta tanggap terhadap pemikiran kritis dan kreatif dari seluruh pihak. Kompetisi perlu dijamin berlangsung seimbang agar keanekaragaman tetap terjaga, partisipasi tetap tinggi dan potensi inovasi dapat terus dikembangkan, yang keseluruhannya diabdikan bagi kepentingan penyempurnaan berkelanjutan kehidupan masyarakat.

5. Di dalam masyarakat yang saling terkait, untuk dapat memaksimumkan partisipasi dan meningkatkan ketahanan, kemampuan beradaptasi dan memposisikan diri menjadi penting. Krisis nasional yang dialami menguatkan keyakinan bahwa setiap komunitas harus dapat mengandalkan pemenuhan kebutuhan dasarnya pada kekuatan sendiri, dan mengembangkan kemampuan strategisnya pada bidang-bidang yang dapat diunggulkan. Upaya untuk berperan global ini hanya dimungkinkan, jika sinergi dari seluruh potensi komunitas dapat diciptakan, dan kerjasama eksternal dengan mitra strategis dapat digalang.

III. Peran ITB di Masa Depan

1. ITB, lembaga pendidikan tinggi pertama dalam bidang sains, teknologi dan seni di Indonesia, semenjak didirikan pada tahun 1920 telah menghasilkan kurang lebih 35.000 sarjana. Lulusan ITB bukan saja telah mewarnai sejarah pendirian dan perkembangan bangsa, tetapi juga berperan aktif dalam mempelopori kegiatan pembangunan pasca kemerdekaan. Selain berperan di pasar tenaga kerja internasional, sebagian besar dari mereka bahkan menduduki posisi pimpinan atau posisi kunci yang sangat menentukan pengembangan institusi pemerintahan atau swasta tempat mereka bekerja.

Sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, dan termasuk yang terbaik di Asia saat ini, ITB telah memberikan kontribusi sangat luas dalam pengembangan pendidikan, pengembangan sains, teknologi dan seni, dan pengembangan industri nasional melalui karya-karya penelitian dan pengabdian masyarakatnya yang sebagian sudah bertaraf internasional.

ITB sebagai institusi, ataupun stafnya sebagai individu, sering diminta untuk memberikan saran dan masukan bagi kebijakan pengembangan infrastruktur, pendidikan dan industri nasional. Staf pengajar ITB sering diminta untuk menduduki jabatan penting di pemerintahan, sebagai Menteri, Direktur Jenderal, Direktur, pimpinan di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan juga pimpinan lembaga tinggi negara lainnya. Beberapa dari mereka juga diminta untuk membantu pemerintah daerah dalam perencanaan dan pengembangan regional.

2. Sebagai institusi pendidikan tinggi dan pusat pengembangan sains, teknologi dan seni terkemuka bangsa, ITB harus selalu dapat mengantisipasi kecenderungan masa depan. Selain mengikuti perkembangan dan berperan dalam kemajuan dunia, ITB terutama perlu mempunyai kemampuan mengembangkan dan menyebarkan sains, teknologi dan seni yang diperlukan untuk mempercepat proses pencerdasan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya dengan menggali secara intensif seluruh potensi dan keunikan lokal untuk mewujudkan jati diri bangsa yang tangguh.

Untuk memantapkan pertumbuhan bidang keilmuannya, ITB perlu turut mendalami ilmu sosial dan kemanusiaan. Selain itu, teknologi informasi perlu dikuasai dengan baik, diterapkan dan dimanfaatkan seluas-luasnya untuk memperkuat peran pembinaan serta mendukung pengembangan pendidikan dan pembangunan nasional.

ITB harus menjadi organisasi yang terpadu, otonom, fleksibel, terbuka, mempunyai sinergi antar disiplin yang baik dan sistem yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, kewenangan yang terdesentralisasi, dan berorientasi kepada kepentingan masyarakat.

3. Menghadapi arus perubahan berdimensi global, ITB perlu menegakkan dan secara berkelanjutan mengembangkan tradisinya, baik yang menyangkut moral dan etika maupun tata nilai dan kebiasaan baik yang senantiasa diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat akademik. Dari kampus ITB harus dapat dipancarkan kearifan, kebijakan dan pandangan-pandangan yang dapat menjadi rujukan bagi kegiatan dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

4. Sesuai dengan perannya dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang andal dan unggul dan kompetensinya dalam pengembangan sains, teknologi dan seni, ITB harus dapat menjadi kekuatan pembangunan nasional yang mempelopori proses transformasi budaya menuju masyarakat Indonesia modern yang berdasarkan pada nilai luhur bangsa, terbuka dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penggerak utama kemajuannya.

Menyongsong perkembangan yang mungkin terjadi di awal abad ke-21 seperti diuraikan di atas, ITB merumuskan visinya sebagai berikut: 
 
VISI MASA DEPAN ITB 

ITB MENJADI LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI DAN PUSAT PENGEMBANGAN SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI YANG UNGGUL, HANDAL DAN BERMARTABAT DI DUNIA, YANG BERSAMA DENGAN LEMBAGA TERKEMUKA BANGSA MENGHANTARKAN MASYARAKAT INDONESIA MENJADI BANGSA YANG BERSATU, BERDAULAT DAN SEJAHTERA


Memperhatikan Visi ITB seperti diuraikan terdahulu dan mandat yang diembannya untuk melaksanakan tri darma perguruan tinggi, ITB merumuskan misinya sebagai berikut:

MISI ITB 2000-2010 

MEMANDU PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN YANG DILAKUKAN MASYARAKAT
MELALUI KEGIATAN TRI DARMA PERGURUAN TINGGI YANG INOVATIF, BERMUTU DAN TANGGAP TERHADAP PERKEMBANGAN GLOBAL DAN TANTANGAN LOKAL

Pelaksanaan misi demi terwujudnya visi seperti diuraikan di atas memerlukan Rencana Strategis yang disusun melalui proses evaluasi diri, identifikasi pokok-pokok permasalahan utama (isu strategis), tahapan dari tujuan yang ingin dicapai, dan program utama yang akan dilaksanakan, termasuk agenda dan sumber dayanya. Pengembangan institusi untuk mewujudkan organisasi ITB yang berdaya dan otonom merupakan langkah awal yang harus ditempuh.

Strategi pelaksanaan misi ITB secara garis besar diuraikan berikut ini:

I. Pendidikan dan pengajaran

Melaksanakan program pendidikan dan pengajaran yang dapat mengantisipasi kemajuan dan perkembangan sains, teknologi dan seni yang sangat cepat, berdasarkan pada konsepsi:

1. penghargaan yang tinggi terhadap martabat manusia,
2. pemacuan kreatifitas dan inovasi melalui kebebasan akademik dan pembinaan semangat untuk maju,
3. pembelajaran sepanjang hayat,
4. pembentukan lingkungan belajar terbuka yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, serta peran tenaga pengajar sebagai mitra dan fasilitator yang kompeten, konsisten dan memiliki komitmen yang tinggi,
5. pengembangan pengetahuan generik dan pengkajian inter-disiplin yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata serta dilandasi oleh penegakan moral dan etika akademik.

Pendidikan ditujukan untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai:

1. ahlak tinggi, berkarakter luhur, mempunyai jiwa kepemimpinan, mampu dan mau membangun negara dan menjaga keutuhan bangsa,
2. kemampuan intelektualitas, penguasaan keilmuan dan keahlian yang tinggi, berwawasan global, peka terhadap kondisi lokal, dan mempunyai potensi untuk berkembang,
3. daya kreatifitas tinggi dan inovatif,
4. kematangan emosional bercirikan kepercayaan diri yang tinggi, mandiri, mampu bekerjasama, dapat berkomunikasi dan menyampaikan pendapatnya dengan baik, menghargai perbedaan pendapat, mempunyai kepekaan sosial dan dapat dipercaya, serta
5. fisik yang sehat dan kuat.

Kurikulum perlu disusun dan dikaji secara periodik dengan memperhatikan:

1. landasan keilmuan yang kokoh,
2. fleksibilitas untuk mengakomodasi variasi minat dan memperkaya keanekaragaman,
3. penggalian potensi lokal dan keunikannya,
4. kemampuan integrasi bidang keilmuan dengan manusia, alam dan lingkungannya untuk memaksimalkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi bagi peningkatan kualitas ekosistem dan kesejahteraan umat manusia,
5. wawasan kewirausahaan untuk dapat menerapkan sains, teknologi dan seni yang dikembangkan, serta
6. kesetaraan internasional dan jaminan kualitas agar dapat berpartisipasi secara global.


II. Penelitian

Melaksanakan penelitian berkualitas dan bertaraf internasional untuk mendukung pengembangan sains, teknologi dan seni, membangun keilmuan baru, melayani kebutuhan pembangunan nasional dan masyarakat luas, dengan memperhatikan moral dan etika akademik serta hak atas kekayaan intelektual.

Penelitian dan pengembangan sains, teknologi dan seni akan menjadi kegiatan utama ITB dan menjadi landasan serta sumber penggerak pelaksanaan misi pendidikan dan misi pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan dan kerjasama penelitian dalam lingkup nasional dan internasional perlu ditunjang oleh sistem pendukung yang terpadu, sehingga pemanfaatan sumber daya dapat optimal dan sinergi keilmuan antar disiplin dapat diwujudkan.

Untuk mengefektifkan upaya pengembangan kegiatan penelitian, program penelitian perlu difokuskan kepada bidang pengetahuan yang berdampak luas dan dapat memacu pengembangan sains, teknologi dan seni, kegiatan perekonomian dan pembangunan nasional.


III. Pengabdian kepada masyarakat

Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat untuk memberdayakan masyarakat secara luas melalui program pendidikan berkelanjutan, pelatihan dan proses alih ilmu pengetahuan dan teknologi secara proaktif, sehingga mendorong pengembangan kompetensi keilmuan yang dimiliki, menumbuhkan komitmen dan semangat pengabdian, profesionalisme dan kewirausahaan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan sarana untuk membentuk sikap profesional, sehingga dapat memantapkan pelaksanaan misi pendidikan dan pengajaran serta misi penelitian.

Agar kebutuhan masyarakat akan sains, teknologi dan seni dapat diamati dan diformulasikan, dan seluruh sains, teknologi dan seni yang dikembangkan dapat dimanfaatkan secara maksimal, maka kegiatan pengabdian kepada masyarakat harus diwadahi dalam keterpaduan organisasi.

ITB bersama dengan alumni, mitra industri, institusi pemerintah terkait dan perguruan tinggi terkemuka lainnya harus mengupayakan terbentuknya jaringan kerja sama pelayanan masyarakat dalam bidang sains, teknologi dan seni, untuk mendukung seluruh kegiatan pembangunan nasional.

IV. Pengembangan institusi dan pembinaan staf pengajar, teknisi dan administrasi 
 
Melaksanakan pemberdayaan dan pengembangan organisasi untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya masyarakat akademik global yang terhormat. Pengembangan karir dan pembinaan staf pengajar, teknisi dan administrasi dilakukan secara sistematis dan terencana, dengan cara yang bijaksana, kolegial dan partisipatif, untuk meningkatkan kompetensi staf dan kinerja organisasi, mengembangkan budaya, moral dan etika kerja, sehingga mampu menghadapi tantangan masa depan.

Agar pengembangan institusi dapat dilaksanakan berkelanjutan, perlu dikembangkan dan dibina wadah kegiatan yang dapat mengintegrasikan pelaksanaan misi ITB dengan upaya kewirausahaan. Kepeloporan, keterpaduan dan kesinambungan kegiatan wirausaha tersebut ditujukan untuk mendukung wawasan usaha swadana dalam rangka otonomi dan kemandirian perguruan tinggi, untuk meningkatkan prestasi sivitas akademika dan mengakomodasikan minat dan potensi individual.

Kegiatan tri darma ITB harus dapat menjadi panutan dan model bagi kegiatan masyarakat dalam berbagai skala. Dengan demikian selain memberikan kebijakan dan pandangan dalam bidang pendidikan dan pengembangan sains, teknologi dan seni yang bermanfaat bagi pembangunan nasional, ITB melalui seluruh misinya, secara terus menerus harus memancarkan kearifan, nilai moral dan etika yang dapat dijadikan rujukan bagi kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Perkembangan E-Learning di Indonesia

Perkembangan E-Learning di Indonesia_

Perkembangan E-Learning di Indonesia - Kebutuhan negara untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan sumber daya manusia melalui pendidikan tidak diragukan lagi akan tekanan yang berlanjut pada permintaan untuk e-learning, sebagai generasi kelima terbuka dan pembelajaran jarak jauh (ODL). Faktor tambahan yang beroperasi di negara-negara transisi frequesntly adalah peningkatan pesat dari populasi. Pencari Indonesia dan Asia Tenggara untuk biaya cara yang efektif dan efisien untuk menyediakan akses ke pendidikan pada semua jenjang selanjutnya akan membuat tuntutan lebih pada onepn dan jarak model pembelajaran (Jegede & Shive, 2001). Banyak orang Indonesia terus hidup di daerah pedesaan dan terpencil dan memiliki Demant signifikan untuk pendidikan, yang belum terpenuhi. Banyak Indonesia masih menghadapi ekonomi, geografis, serta kendala waktu untuk berpartisipasi dalam pendidikan konvensional formal. Di sisi lain, visi baru dari sistem pendidikan nasional telah menantang pendidikan tinggi untuk menyediakan pendidikan berkualitas untuk semua, dan untuk meningkatkan tingkat partisipasi dari 14,2% pada tahun 2005 menjadi 35% pada tahun 2025.

Dalam konteks perubahan teknologi yang cepat dan pergeseran pasar dan kondisi ekonomi, pendidikan tinggi ditantang untuk memberikan kesempatan pendidikan yang meningkat tanpa manfaat dari peningkatan alokasi anggaran. Banyak instiutions pendidikan yang menjawab tantangan ini dengan terlibat dalam program pembelajaran terbuka dan jarak jauh (Bates, 2000), lebih lanjut dalam inisiatif e-learning. Dengan kemajuan ICT yang menawarkan pembelajaran yang efektif dan efisien mendukung di semua tingkat pendidikan dan dalam semua bidang pengetahuan, manifestasi lain yang muncul perkembangan percepatan berbasis ICT terbuka dan pembelajaran jarak jauh, yaitu, e-learning di seluruh bagian dunia (Khan, 2002).

E-learning dipandang sebagai yang paling layak, murah, dan "mudah" mode pendidikan yang dapat membuka akses pendidikan bagi banyak siswa. E-learning juga dianggap mampu memberikan orang dewasa dengan kesempatan lain untuk pendidikan, sementara mencapai orang-orang yang kurang beruntung dibatasi oleh waktu, jarak, atau cacat, dan hampir memperbarui basis pengetahuan pekerja di tempat kerja mereka (Churton, 2006) . Di Indonesia, e-learning telah mendapatkan popularitas sejak awal tahun 2000, yang jika dirancang dengan baik dan kualitatif dapat memberikan kesempatan dan akses terhadap pendidikan yang berkualitas dalam skala lokal, nasional, dan global.

Tulisan ini akan melihat gambaran inisiatif e-learning dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Beberapa inisiatif e-learning akan dieksplorasi, dan hasil inisiatif tersebut akan digambarkan. Beberapa kekhawatiran dan pertimbangan lanjut pada pengembangan berbasis ICT ODL di Indonesia juga akan dibahas.

Kebijakan ODL di Indonesia: Bergerak Menuju E-learning
Di Indonesia, pendidikan jarak jauh dimulai pada tahun 1950-an. Ini pertama kali terlihat sebagai alternatif pendidikan untuk mempersiapkan guru melalui kursus korespondensi. Namun demikian, peluncuran Universitas Terbuka (UT) - sebuah universitas pendidikan jarak jauh - pada tahun 1984 ditandai popularitas pendidikan jarak jauh di Indonesia.

Sifat besar dan penerapan skala ekonomi dalam pendidikan jarak jauh telah menarik banyak pendidikan tinggi untuk masuk ke bisnis pendidikan jarak jauh. Klaim yang dibuat oleh universitas berbagai, antara lain, mereka mencoba yang terbaik untuk memasukkan ICT dalam praktek pendidikan mereka untuk dapat menawarkan pendidikan berkualitas di seluruh ruang dan waktu, sehingga melayani siswa miskin di daerah perkotaan terpencil dan mereka menawarkan pendidikan dengan harga terjangkau, serta untuk menerapkan ICT dalam kombinasi yang tepat dengan kelas berbasis pengajaran tradisional tatap muka dan pembelajaran

Sama seperti banyak inovasi lainnya dalam pendidikan, kadang-kadang ulangan yang dibuat berdasarkan aspek tangible, tanpa pemahaman yang cukup dari asumsi yang mendasari tidak berwujud dan philopsophy. Hal ini berlaku dalam kasus pendidikan jarak jauh. Beberapa lembaga menerjemahkan pembelajaran jarak jauh sebagai kelas jarak jauh. Beberapa universitas melihat pendidikan jarak jauh sebagai menawarkan setumpuk catatan kuliah dan buku teks bagi siswa untuk membaca sendiri, sampai waktu ujian datang. Masih universitas lain menerjemahkan pembelajaran jarak jauh seperti di modus e-learning kampus, dimana siswa didorong untuk mengambil peran aktif dalam pembelajaran mereka sendiri dan menjadi otonom, oleh ascessing bahan pembelajaran yang tersedia di web atau di internet, dan guru juga diharapkan untuk menggunakan web atau internet untuk menyimpan kuliah mereka dicatat, dan atau untuk mencari referensi. Interaksi tatap muka antara guru dan siswa bertekad untuk tetap seperti dulu. Ini modus pembelajaran jarak jauh diterapkan oleh beberapa perguruan tinggi swasta yang telah berinvestasi di ICT untuk mempersiapkan siswa untuk menjadi warga dunia.

Pada tahun 2001 pemerintah mengumumkan peraturan baru untuk sistem pendidikan yang lebih tinggi, mengenai modus pendidikan jarak jauh. Peraturan baru memungkinkan universitas konvensional untuk menawarkan beberapa program atau kursus memanfaatkan modus belajar jarak jauh mereka. Mereka menerapkan dual mode dalam pembelajaran kegiatan belajar mengajar, konvensional dan jarak. Namun, peraturan baru ini juga menyatakan dengan jelas bahwa hanya pendidikan jarak jauh berbasis ICT diperbolehkan untuk mendapatkan review dan evaluasi untuk persetujuan.

Peraturan ini telah dikonfirmasikan lebih lanjut dengan undang-undang baru tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pembelajaran terbuka dan jarak merupakan salah satu sistem pendidikan yang digunakan di Indonesia. Undang-undang baru memang memberikan jawaban untuk situasi sekarang akses yang tidak seimbang antara daerah-daerah terpencil dan pusat di Indonesia untuk staf akademik berkualitas, dan rendahnya rasio siswa dalam pendidikan tinggi untuk setiap 100.000 penduduk di Indonesia. Masalah ekuitas, dalam hal ini, dapat diatasi dengan undang-undang baru yang memungkinkan perluasan sistem pendidikan tinggi yang ada untuk lebih banyak akses untuk mempromosikan pemerataan di tingkat lokal, regional, dan nasional. Dalam hal ini, TIK berbasis terbuka dan pembelajaran jarak jauh dipandang dapat memberikan jawaban atas kedua akses serta tantangan ekuitas. Sejauh ini, telah ada banyak inisiatif dimulai oleh pemerintah maupun oleh swasta dalam membangun infrastruktur ICT untuk pendidikan, dan pada saat yang sama, ada inisiatif yang diambil oleh universitas untuk menawarkan pembelajaran berbasis TIK terbuka dan jarak jauh, atau yang paling umumnya dikenal sebagai e-learning.


Beberapa Inisiatif E-learning

E-learning telah inovasi pendidikan terbaru di awal abad ke-21 ini. Hal ini diyakini bahwa e-learning memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar dan untuk semua jenis peserta didik di banyak negara. E-learning dapat memberikan stimulasi aplikasi interaktif untuk belajar di rumah, di sekolah, dan di tempat kerja. Siswa dapat berbagi pengalaman belajar jarak besar melalui penggunaan alat-alat pembelajaran kolaboratif tersedia di e-learning. Perusahaan dapat berpartisipasi dalam aplikasi baru untuk pelatihan-pekerjaan, sementara jaringan canggih dan layanan pembelajaran dapat mengatasi masalah komunikasi dalam pelatihan profesional di daerah terpencil. Kombinasi approriate e-learning dengan pengajaran berbasis kelas tatap muka tradisional dan pembelajaran dianggap untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas, serta memberikan dukungan praktis untuk belajar tentang alat digital masyarakat saat ini.

Singkatnya, e-learning merambat penciptaan dan distribusi tidak hanya informasi tetapi juga pengetahuan, analisis dan penerapan teknologi, untuk kemajuan masyarakat. Namun demikian, seperti dalam banyak jenis proses belajar, desain pengalaman belajar secara signifikan diperlukan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Desain e-learning pengalaman melibatkan eksplorasi tempat e-learning - untuk mencapai hasil yang optimal. Dalam hal ini, jelas bahwa tempat e-learning saja tidak cukup untuk belajar berlangsung, kecuali ada desain yang melekat ke dalamnya, untuk e-learning untuk menjadi kenyataan itu.

Meskipun ada banyak keragaman kursus e-learning yang digunakan oleh pengembang saja individu, dan berbagai cara e-learning korban oleh lembaga pendidikan, ada empat e-learning saja klasifikasi menurut Sloan Studi (2005):

Proporsi Content Disampaikan online Tipe Course Khas descripton
0% saja F2F Tradisional - tanpa ICT / teknologi online yang digunakan, instruksi disampaikan secara tertulis atau lisan
ICT 1-29% / Web Difasilitasi Course yang menggunakan ICT / teknologi berbasis web untuk memfasilitasi apa yang pada dasarnya program F2F. Menggunakan sistem manajemen kursus atau halaman web untuk menulis silabus dan tugas, atau e-mail untuk komunikasi, misalnya.
30-79% Dicampur /
Hybrid Course yang memadukan secara online dan F2F pengiriman. Proporsi yang besar dari konten yang disampaikan secara online, biasanya menggunakan diskusi online, dan biasanya memiliki beberapa pertemuan F2F.
80 +% online / e-learning Sebuah kursus di mana sebagian besar dari semua konten yang disampaikan secara online, dan interaksi dilakukan secara virtual. Biasanya tidak memiliki atau pertemuan F2F minimal.

Di Indonesia, selain Universitas Terbuka, yang merupakan single mode universitas pembelajaran terbuka dan jarak jauh, ada beberapa perguruan tinggi lain telah terlibat dalam inisiatif e-learning, antara lain, Universitas Indonesia (SCELE), Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung ( SOI Asia), Universitas Gajah Mada (UGM SENYUM @), Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Islam Sultan Agung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya.

Di UI, penggunaan kursus e-learning masih didukung oleh buku cetak dan juga tatap muka pertemuan di kampus, yang kemudian membentuk blended learning. Inisiatif di Sekolah di internet di Asia (SOI Asia) oleh ITB berfokus pada pertukaran saja melalui penggunaan internet dan telekonferensi.

Perkembangan inisiatif pembelajaran berbasis TIK di UGM telah pertama difokuskan pada pengembangan skala kecil Fakultas Teknik (FE). Dalam FE, e-learning ini dirancang untuk menggunakan pembelajaran berbasis masalah sebagai strategi pembelajaran virtual. Pengembangan konten terdiri dari pengembangan teori yang mendasari dan konsep, contoh dan studi kasus, dokumentasi, referensi, pedoman teknis, latihan dan praktek, dan sumber daya eksternal (hubungan) untuk setiap kursus di bidang teknik. Beberapa pertimbangan yang mendasari pengembangan konten, yaitu, penekanan pada transfer informasi yang efektif (isi yang benar dan diperbarui, gangguan minimal), persyaratan usaha belajar minimal (pengguna keramahan), penggunaan format multimedia, dan juga penggunaan yang paling efisien dan pengiriman format terjangkau (koneksi bandwidth rendah).

Dalam Universitas Islam Sultan Agung, inisiatif e-learning ditekankan dalam pengembangan Sinau Online, sistem manajemen e-learning. Inisiatif ini dirancang untuk fokus pada pembelajaran terbuka, yaitu, belajar melalui berbagai saluran dan media untuk meningkatkan pembelajaran F2F. Ada sekitar 40 program studi yang tersedia online di Sinau online pada saat ini, dan Sinau Online telah berada di versi kedua dari perkembangannya.

Inisiatif e-learning di UNPAD mempekerjakan lingkungan blended learning, di mana pendekatan pengajaran tradisional (kegiatan belajar di kelas tatap muka) yang dicampur dengan teknologi teknologi pembelajaran (informasi internet dan komunikasi. Pelatihan untuk dosen telah terlibat 207 dosen, dan diproduksi kursus tingkat 75 sarjana di e-learning Format. Untuk inisiatif e-learning yang, UNPAD memilih WebCT dan mempekerjakan sepenuhnya sebagai sistem manajemen pembelajaran yang.

Di UT, pengembangan e-learning program telah cukup tantangan bagi staf akademik. Dari perspektif staf akademik, ditemukan bahwa mereka memiliki persepsi yang sangat positif pada program berbasis web dan implementasi e-learning. Meskipun e-learning menawarkan media alternatif yang baik dari instruksi. Namun demikian, pada tahap desain, anggota fakultas menyadari bahwa agar mereka dapat merancang program berbasis web, mereka harus memiliki pengetahuan yang baik di daerah subyek dan memiliki keakraban dengan perangkat lunak dan aplikasi yang digunakan. Pengetahuan teknis pada perangkat lunak dan aplikasi juga diperlukan pada tahap implementasi, dan kemudian di pemeliharaan (termasuk revisi) tahap. Para anggota fakultas juga menyadari tentang beban tambahan bagi mereka untuk masuk ke e-learning saja (mulai dari tahap desain) dan kemampuan yang diperlukan untuk bekerja dalam sebuah tim. Pada titik ini, beberapa pengembang juga mengakui bahwa mereka hanya mengumpulkan semua potongan-potongan saja mereka dalam format soft-copy dan menempatkan mereka di LMS. Sementara itu, beberapa anggota staf akademik lainnya yang skeptis terhadap perkembangan ini, hanya karena mereka tidak sadar dan atau mereka tidak savy komputer. Pada saat ini, inisiatif e-learning di UT juga berfokus pada pengalaman belajar blended untuk UT lulusan siswa.

Dengan demikian, tatap muka tutorial serta bahan cetak, dan bahan audiovisual yang bagian saja, di samping tentu saja berbasis web yang ditawarkan.

Selain inisiatif yang disebutkan di atas, ada banyak perguruan tinggi lain serta staf akademik individu yang membuat usaha untuk mengembangkan e-learning program. Beberapa telah berhasil, ada juga yang masih bergerak, dan ada beberapa orang lain yang tidak berhasil.

Pembelajaran

Tujuan utama dari inisiatif e-learning adalah untuk mengambil keuntungan dari kemajuan ICT untuk meningkatkan belajar siswa. Inisiatif e-learning memerlukan pendekatan yang benar dan dukungan pada skala luas universitas. Selain isu ICT - hardware, software, infrastruktur (konektivitas, dll), faktor manusia telah diidentifikasi unsur yang paling penting yang dibutuhkan untuk membangun inisiatif e-learning. Sebagian besar pengguna (kebanyakan mahasiswa) menunjukkan keinginan mereka dalam menggunakan e-learning untuk tujuan instruksional (pengajaran serta pembelajaran) ini. Dari survei yang dilakukan oleh ITB, UT, dan UNPAD, itu jelas bahwa siswa yang dirasakan e-learning pengalaman mereka adalah novel dan menantang. Namun demikian, dari perspektif pengembang, yaitu, anggota fakultas, karya tranforming program mereka ke dalam program e-learning yang dianggap beban kerja tambahan yang diperlukan tambahan (baru) keterampilan, dan waktu ekstra yang dihabiskan. Selanjutnya, kurangnya keterampilan telah menyebabkan transfer untuk semua tatap muka dan bahan cetak ke dalam file elektronik belaka. Fakultas anggota menganggap bahwa ketika mereka memiliki bahan dalam file elektronik siap siswa, maka pembelajaran akan berlangsung secara otomatis. Dengan demikian, peran baru yang muncul dan tanggung jawab anggota fakultas dalam mempersiapkan, memelihara, dan melaksanakan proses e-learning, sementara menjaga dengan ajaran yang ada dan tanggung jawab belajar adalah tantangan yang sulit untuk anggota fakultas.

Kurangnya keterampilan ICT dan melek huruf, atau budaya ICT telah menjadi kendala utama yang dihadapi oleh pengguna (mahasiswa, dosen, administrator) dan pengembang saja. Untuk inisiatif e-learning untuk bekerja, baik dosen dan mahasiswa, bahkan administrator, harus melihat ICT dengan cara yang positif, merasa nyaman dengan teknologi, dan menggunakannya secara efektif. Bahkan anggota fakultas dan mahasiswa yang memegang sikap positif terhadap teknologi mungkin memiliki kesulitan mentransfer sikap ini menjadi tindakan produktif, ketika sistem di universitas tidak memberikan dukungan yang cukup bagi mereka untuk melakukan eksplorasi. Selanjutnya, kekhawatiran pribadi mereka (yaitu, kesulitan dalam mengembangkan e-program mereka, kesulitan teknis, dll) harus dihadiri untuk melalui dukungan yang memadai dan pribadi. Sejumlah besar uang ditempatkan untuk pengembangan teknologi sendiri akan sia-sia kecuali perhatian dibayar untuk membantu anggota fakultas dan mahasiswa melakukan transisi ke teknologi lingkungan belajar yang kaya.

Dari perspektif manajemen, yang paling inisiatif e-learning di Indonesia saat ini berada pada tahap perkembangan. Massa kritis harus dikembangkan lebih lanjut, dan sistem juga harus ditindaklanjuti dieksplorasi dan penelitian. Sejauh ini, fokus dari inisiatif telah di teknologi, apa yang (program) dalam e-learning format, dan sumber (dari siapa: dosen) dari program e-learning. Lebih lanjut di jalan, pergeseran fokus diperlukan, yaitu, untuk fokus pada bagaimana belajar yang diperoleh, bukan pada apa dan dari siapa dengan apa teknologi. Kaur (2006) menyatakan bahwa dengan e-learning, kita tidak hanya introducting teknologi baru untuk belajar, kami memperkenalkan cara baru untuk berpikir tentang pembelajaran. Selain itu, sistem baru biasanya membuat perang melawan sistem yang ada lama. Bersaing dengan waktu, perhatian, uang, prestise, dan pandangan dunia.

Beberapa Pertimbangan

Dalam kebanyakan kasus inisiatif e-learning, pertimbangan yang sangat diberikan pada ketersediaan teknologi (hardware dan software) dan infrastruktur (konektivitas). Namun, pertimbangan kurang diberikan pada pengembangan konten. Sementara ketersediaan teknologi dan infrastruktur memang pentingnya tinggi, upaya pada pengembangan konten juga paralel penting, terutama pada tingkat individu inisiatif e-learning.

Pembahasan pengembangan konten berkisar dari pilihan media dan rintangan teknologi untuk upaya untuk membedakan antara e-learning dan bahan F2F tradisional. Topik yang paling umum muncul dalam diskusi telah penerapan konsep pengajaran F2F tradisional dan pendekatan untuk e-learning lingkungan. E-learning difokuskan lebih pada "belajar" sisi, tidak lagi mengajar. Jadi e-learning inisiatif membutuhkan pergeseran paradigma dari menempatkan pentingnya pada pengajaran pentingnya pengalaman belajar. Tumpukan buku di perpustakaan, atau ribuan sumber daya yang tersedia di internet tidak akan menjamin belajar berlangsung, kecuali dirancang dengan baik. Ada enam bidang pertimbangan dalam desain e-learning konten, yaitu, aktivitas, skenario, umpan balik, pengiriman, konteks, dan dampaknya, yang fokus pada pembelajaran di e-learning lingkungan.

- Aktivitas
Efektif e-learning bergantung pada memiliki tugas untuk siswa untuk melakukan yang memberikan pengalaman kemungkinan mereka untuk pemahaman baru yang diinginkan. Kegiatan kaya adalah salah satu yang membuka peluang untuk tindakan daripada mengarahkan siswa menyusuri jalur pembelajaran yang ditentukan. Kegiatan tersebut menyiratkan keterlibatan aktif peserta didik dalam membuat pilihan tentang pengalaman apa yang harus dilakukan, dan cukup baik untuk terlibat dan tantangan siswa kompleks selama penelitian. Semakin banyak cara di mana peserta didik terlibat dalam kegiatan tugas terkait, semakin kuat belajar (Biggs, 1991)

- Skenario
Skenario dapat membantu aktivitas memiliki arti. Skenario biasanya diberikan dalam bentuk cerita, role play, atau simulasi, di mana aktivitas memainkan peran penting dalam membantu siswa untuk mengontekstualisasikan konten. Skenario sebagian besar adalah fiksi, namun, ada asumsi bahwa belajar atau keterampilan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut akan ditransfer ke situasi dunia nyata di masa depan. Transfer dibantu jika skenario pembelajaran menimbulkan masalah dan masalah yang sama dengan yang ada di dunia nyata.

- Masukan
Pengalaman o menjadi pengetahuan melalui refleksi, yang ditingkatkan oleh kritik yang tepat waktu dan tepat. Efektif e-learning akan mencakup penyediaan umpan balik yang menekankan pembelajaran dari pengalaman, dan memungkinkan siswa untuk meningkatkan tingkat keterampilan dan pengetahuan. Kisaran umpan balik yang tersedia meliputi tanggapan reflektif untuk pertanyaan yang ditentukan, tanggapan semiautomated oleh sistem untuk tindakan mahasiswa dan bekerja, komentar bersama di forum secara online dan blog, dan tanggapan pribadi melalui email, atau media lainnya. Tantangan dalam memberikan umpan balik termasuk penyediaan satu-ke-satu, ketepatan waktu, dan umpan balik dialogis kepada siswa.

- Pengiriman
Pengiriman e-learning harus bertujuan untuk memaksimalkan keterlibatan siswa dengan aktivitas, memungkinkan komunikasi merangsang konteks, dan memaksimalkan peluang untuk umpan balik dan refleksi. Di kali, pilihan yang dibutuhkan antara batas-batas teknis yang memberikan kesempatan bagi solusi baru dan teknologi, dan strategi pengiriman sederhana, berdasarkan informasi, pesan, dan interaksi yang akan disampaikan.

- Konteks
Konteks yang lebih luas di mana kegiatan belajar yang disampaikan dapat mempengaruhi banyak elemen dari e-learning pengembangan, dan sebaliknya. Sebagai contoh, ketika bahan diharapkan cocok untuk digunakan sebagai sumber berdiri sendiri, dan tidak dengan asumsi tingkat rinci input guru, tekanan tertentu diletakkan pada kejelasan penjelasan desain instruksional.

- Dampak
Dampak e-learning dapat dinilai dari berbagai perspektif. Pada tingkat individu, pertimbangan mungkin diberikan untuk tingkat belajar mengambil tempat dibandingkan dengan upaya yang diperlukan untuk menghasilkan sumber daya atau kursus. Pertimbangan dampak sosial meliputi kesesuaian budaya dari bahan, sejauh bahan membutuhkan seseorang untuk bekerja dengan atau untuk mengawasi siswa, cara dapat mempengaruhi modal budaya di lingkungan pendidikan, dan nilai-nilai etika yang tersirat dalam bahan. Pertimbangan atas dampak lingkungan termasuk penggunaan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan menyampaikan materi, administrasi atau penggunaan e-learning, dan bagaimana lingkungan akan mendapatkan keuntungan dari e-learning.

Di tingkat universitas, beberapa pertimbangan perlu diberikan untuk memastikan proses manajemen perubahan dan struktur berada di tempat, untuk mendorong praktik terbaik (juara) dari sumber daya yang kaya tersembunyi di dalam kampus, dan untuk menunjukkan dampak inisiatif. Dalam banyak kasus, pengembangan e-learning program telah diserahkan kepada individu "inovatif atau savy komputer" staf akademik. Dukungan dari lembaga minimal, pengembangan e-learning masyarakat (massa kritis) belum menjadi prioritas, pembentukan tim dalam pembangunan yang bekerja tidak terlihat diperlukan, sementara lembaga menunjukkan e-learning dukungan dan komitmen mereka terutama melalui pengadaan hardware (dan software), dan membuat infrastruktur yang tersedia.

Keterangan
Dengan perkembangan ICT dan pengaruhnya baik terhadap tatap muka pendidikan dan juga pembelajaran jarak jauh, e-learning dianggap menjadi sistem pembelajaran alternatif yang populer dibahas dalam banyak kesempatan oleh banyak lembaga pendidikan tinggi. Sementara ketersediaan teknologi dan infrastruktur memang pertimbangan penting di universitas dan manajemen tingkat, upaya pada pengembangan konten juga paralel penting, terutama pada tingkat individu inisiatif e-learning. Sejauh ini, banyak pertimbangan pada pengembangan konten belum dieksplorasi dalam berbagai inisiatif e-learning.

Pada tingkat kelembagaan, dengan dukungan yang tersedia infrastruktur dari pemerintah, lembaga mungkin ingin menggeser prioritas untuk pengembangan masyarakat e-learning di lingkungannya, daripada berfokus pada hardware, software, atau infrastruktur saja. Pengguna serta pengembang e-learning adalah dari sama-sama penting dalam komunitas e-learning, di samping ketersediaan teknologi.

Saat ini, situasinya memang sangat menjanjikan, kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia telah tersedia di klik jari siswa di ruang dan waktu. Dikombinasikan dengan ketersediaan layanan pendidikan yang berkualitas ditawarkan melalui pendidikan jarak jauh oleh Universitas Terbuka, inisiatif yang sangat menjanjikan dalam meningkatkan tingkat partisipasi siswa pendidikan tinggi di seluruh Indonesia. Diharapkan lebih lanjut, beberapa lembaga pendidikan tinggi lainnya akan mengambil bagian dalam e-learning ini inisiatif, untuk membuka lebih banyak akses ke pendidikan yang berkualitas di Indonesia.


Sekian artikel tentang Perkembangan E-Learning di Indonesia.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *